“Kutinggalkan Hatiku Di Kota Makassar”
“Bel, nggak
terasa yah, sekarang kita udah diatas kapal dan akan meninggalkn kota Baubau.”
Ucap Eki sambil merangkulku. Eki adalah teman baikku. Ia selalu ada dalam suka
maupun duka. Orangnya baik dan sabar. Membuat aku sangat nyaman berteman
dengannya. Meskipun terkadang, aku
melakukan kebodohan ataupun kesalahan kecil padanya, ia pasti akan
memaafkanku. Aku sangat bersyukur, kita bisa melanjutkan sekolah diperguruan
yang sama. “Iyah, kamu benar.’’ Lihat tuh patung naganya. Kelihatannya, lagi
nangis lihat kita pergi. hehe”. “Bisa aja sih kamu” Kami beranjak meninggalkan
halaman teras kapal, sambil menikmati pemandangan pantai kamali dan
gunung-gunung yang tertata rapi. Saat sampai dideck dua(kelas ekonomi),
ternyata teman-teman telah berkumpul. Semuanya terlihat sedih dan lesuh. Tak
ada yang berkata sepatah katapun. Suasananya sepi tak berpenghuni bagaikan
dihalaman kuburan umum. Aku tidak ingin terlelap dalam situasi seperti ini.
Akupun mencoba memulai pembicaraan. “Ehem, ada yang punya air minum nda? “
Tidak ada satupun yang menyahut. “Aku haus banget ni, soalnya aku dah ngeluarin
air mata banyaaak banget”. Eki menatapku dan memberikan botol minumannya. “Ni,
kamu minum aja. Tadi aku takut bakal kebanjiran, jadinya aku tampung disini deh,
semua air mataku.” Serentak teman-teman tertawa terbahak-bahak begitupun
denganku. Suasana berubah menjadi ramai dan riang.
Sesaat, aku
terfokus pada seorang wanita yang lewat didepan kami. Setelah aku perhatikan baik-baik,
ternyata dia adalah Shasa salah satu teman baikku. Aku memanggil dan
melambaikan tangan sambil melemparkan senyum padanya. “Ya ampun Bel, aku capek nyariin kamu. Kita
udah keliling di seluruh kapal, eh ternyata kamu ada disini” Jelasnya. “Waw, so
sweet. Aku dah mau terbang ni karena kamu ngomong kayak gitu.” Ucapku sambil
tersipu malu. “Hmm, mulai lagi deh lebaynya” “Tapi beneran deh, aku nggak
nyangka kalau kamu bakal berangkat hari ni juga.” Selintas aku melihat ada
sosok pria yang aku kenal “Ya ampun, kok dia ada disini” Kataku dalam hati.
Karena penasaran, aku pun menanyakannya.“Fi,kok
dia ada disini?” Tanyaku sambil menunjuk kearah yang aku maksud.
“Jangankan kamu Bel, aku aja bingung. Katanya dia nggak jadi berangkat sekarang.
Eh nda tahunya, dia udah ada diatas kapal. Terus kita barangen deh nyariin
kamu”. Aku terkejut mendengar penjelasan Efi. Disisi lain aku bahagia. Disaat
aku akan pergi aku bisa melihat seorang pria yang sejak diam-diam aku sukai.
Dia adalah kak Semi. Salah satu kakak kelas saat masih duduk dibangku SMP.
Sampai saat ini, dimataku dia tetaplah sama seperti dulu. Tetap manis dan baik
hati. “Senang deh bisa ketemu kalian disini. Kita masih punya waktu untuk
bersama.” Kataku sambil mengambil makanan dalam tas. “Ayo dicobain dulu”
Tawaran aku buat Efi. “Aku mau minum aja deh” Pintanya. Tiba-tiba aku teringat
suatu hal. Segera aku mengambil botol air minum dan berjalan mengarah pada kak
Semi. Aku tidak peduli terhadap pemikiran orang disekitarku. Aku hanya ingin
memberikan air minum yang pernah diminta oleh kak Semi. Namun belum sempat
memberikannya. Awalnya kak Semi menolak namun akhirnya ia mengambilnya dari
tanganku. Akupun kembali duduk disamping Efi. “Bel, kan aku yang minta. Kok
ngasihnya ke kak Semi?” “Oh iyah, maaf deh” Aku hanya bisa tersenyum dan tidak
menjelaskan apa-apa. Lalu aku mengambil satu botol air minum lagi, dan
kuserahkan pada Efi. Dibelakang aku ada Eki yang sedang asik ngobrol bersama
teman-teman yang lain. Ia mengerti kenapa aku bersikap seperti itu. Ia hanya
tersenyum dan tertawa kecil.
Aku diajak oleh Efi untuk berkeliling
dihalaman kapal. Dan tanpa berpikir panjang, aku meminta izin kepada
teman-teman yang memiliki tujuan yang sama denganku. Eki mengerti sekali dengan
apa yang aku rasakan. Ia hanya menganggukan kepala tanda ia mengijinkan. Kamipun beranjak pergi. Kak Semi memandu
perjalanan kami, menunjukan kemana saja kita akan kunjungi. Efi sangat marah
saat melihat tingkah Kak Semi yang jail. Ia hanya memutar-mutar perjalan yang
telah kami lalui. Melihat tingkahnya seperti itu, membuatku merasa lucu dan
mengingat masa-masa saat kita duduk dibangku SMP dulu.
Waktu berputar begitu cepat. Tanpa kita
sadari, bumi berubah menjadi gelap. Kita bertiga menghabiskan waktu dengan
memandangi lautan luas yang berayun-ayun karena tersentuh oleh angin. Langit
yang dihiasi beribu bintang dan rembulan yang memancarkan keindahannya,
menjadikan suasana menjadi damai. Dalam suasana yang indah ini, aku sedih
mengingat waktuku untuk bersama mereka, tidak akan lama lagi. Kapal akan
bersandar dipelabuhan Makassar. “Yeee, udah dekat ni Bel” Teriak Efi. “Iyah.
Tuh udah kelihatan pelabuhannya” Kataku dengan nada yang keras sambil
tersenyum. Namun hatiku tidak bisa
berbohong bahwa sesungguhnya aku angat
sedih berpisah dengan mereka berdua.
Diam-diam aku
memandang wajah kak Semi dan memperhatikan matanya yang indah. Terpancar suatu harapan dari matanya yang
berkilau. Sebuah harapan besar yang ingin sekali ia raih, namun belum pernah ia
dapatkan. Hati dan pikirannya telah dipenuhi oleh wanita yang pernah singgah
dalam kehidupannya. Aku telah tahu akan hal itu, sebelum aku menyadari bahwa
aku telah jatuh cinta padanya.
Meskipun
menyakitkan namun satu hal yang harus aku tahu. Aku tidak mungkin terus
tenggelam dalam lautan yang penuh dengan kesedihan. Satu-satunya hal yang ingin
aku lakukan adalah melepaskan dia dari ingatanku dan mengembalikan semangatku
yang pernah terkuras habis. Mencari
kebahagiaanku sendiri demi orang-orang yang sangat aku sayangi. “Efi, jangan
lupakan aku yah” kataku pada Efi. “Begitupun dengan kamu, kak Semi” Bisikku
dalam hati sambil memandangnya. “Bel, kita masih punya banyak waktu untuk
bertemu kan? Kalau kita pulang kampung nanti, kita masih bisa berkumpul
bersama-sama lagi.” “Iyah Fi, pasti”.
Kapal telah
bersandar dipelabuhan kota Makassar. Aku tidak ingin melihat mereka yang akan
segera turun dari kapal. Aku kembali ke deck dua berkumpul bersama
teman-temanku yang akan meneruskan perjalanan.
Sekarang tidak ada alasan untuk bersedih, aku akan bangkit dan berusaha
mengejar impianku. Meninggalkan perasaan yang pernah membuatku tersakiti. Aku
ingin bahagia bersama orang-orang yang menyayangiku.
SEKIAN